Alam bersendawa,
seakan kenyang akan segala pilu dari sang angin.
Angin suka membawa kabar,
kabar-kabar lelah tentang mereka yang minta dikasihani.
Oh andai Tuhan kasihani kita yang sedang jatuh cinta.
Senja menerpa wajahnya,
seakan membantu ku menerawang pikirannya.
Layaknya seorang cenayang.
Cenayang yang sedang cemas,
cemas, kesal, pasrah menunggu.
Sedang ia sesenggukan.
-
"Tapi hubungan kita suci. Ndak melanggar norma, jauh pula dari keinginan maksiat"
"Tetap saja dosa, mas"
"Aku harus bagaimana?"
"Pinang lah aku kerumah. Aku menunggu"
-
Oh rina,
Akankah kita menangis bersama dengan perasaan cinta, sedih, rindu, dan sebuah dosa?
Ia masih sesenggukan dalam doa tahlil,
ketika rina menitik air mata,
air mata dari sebuah hubungan hampa.
Oh andai Tuhan kasihani kita yang sedang jatuh cinta ini.
Tulisan Hanna
Gue si bukan orang spesial, cuma orang biasa, kehidupan gue juga biasa-biasa aja. Tida ada monumen yang dibangun untuk memperingati gue, ataupun dapat nomer hape Ratu Inggris. Dan dari keseringan melamun, gue melahirkan semua tulisan-tulisan ini, ternyata melamun ada manfaatnya juga. || Cp : hannanrxx@gmail.com
Minggu, 06 Agustus 2017
Minggu, 30 Juli 2017
RUANG SEDUH
Bila mampir ke jogja,
jangan lupa mampir ke warung kopi Ruang Seduh.
Secangkir kopi memang mampu memanjakan tubuh.
Secangkir kopi di pinggir suasana sore kota Jogja memang mampu menenangkan jiwa.
Secangkir kopi.
Ah iya.
Secangkir kopi pernah bercerita tentang aku dan dia.
Tentang aku dan dia yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu di kala derasnya hujan.
Hujan mengguyur jogja yang nan indah di bulan Juni.
Pelan, jadi juga rintik-rintik.
Lama, denting nya pun mulai berbisik, bercerita.
Juni, aku bertemu dengannya.
Desember, kami berbagi kisah.
Tak jemu-jemu aku memandang paras cantik nya.
Mungkin dia bidadari yang jatuh dari surga?
Atau diusir barangkali?
Ah tega sekali Tuhan mengusirnya.
Ia suka caramel.
Sedang aku kopi pahit saja.
Ia meledek.
"Masa kamu ndak suka pakai gula, mas?"
"Ndak. Toh gula nya itu udah ada di kamu loh ndok"
Tersipu malu ia mendengarnya.
Hari-hari pun kami habiskan bersama. Meniti lobang untuk dipenuhi akan cerita berdua.
Ruang seduh, secangkir kopi tentang aku dan dia.
Ruang seduh, ketika hujan mengguyur Jogja. Ruang seduh menjadi tempat berteduh.
Kugenggam tangannya di tanganku.
Ku tiupkan nafas di sela-sela jari tangannya.
Menghangatkannya.
Ia menggigil cekikikan layak anak kecil yang manis.
Kopi dan roti dilumat oleh kami saat hujan sore itu.
Aku memandang ke arahnya.
Kuhapus kopi di bibirnya.
Kusentuh bibirnya, tersentuh pula segala indera dalam diriku.
Kukecup bibirnya, dengan pelan.
Tersapu sudah segala dosa, dan aku suci kembali.
Sebab, telah ku cium seorang bidadari.
Segala khayalan bertebaran keluar, membuar, membaur, meraub pada jarak antara kami berdua.
Berhembus napas, ciuman lelah, sedikit resah, mengadah uap.
Bak uap kopi arabesque.
Uap nya melepuh bersama dengan udara.
Bersatu. Menghilang dan abadi.
-
Ia tersenyum. Tersipu. Atau tak tahu harus berekspresi apa.
Sementara aku menarik diri.
Menampar alam bawah sadar!
Manis bibirnya, semanis kopi caramel yang ia minum.
Ia tersipu malu, berkata pilu lara.
"Kopimu pahit, mas"
Aku hanya tersenyum.
Sejak itu, kucampur kopi pahit dengan caramel.
Perpaduan antara kami.
Di ruang seduh ini.
-
Namun perpaduan tak selalu berjalan padu.
Seduh tak selalu menjadi tempat berteduh.
Seduh bisa menjadi sedih?
Tentu saja bisa.
Apa boleh buat.
Ketika menyeduh kopi malah membuat resah.
Ketika itu pula, kita rindu.
Aku rindu dia.
Sedang dirinya?
Aku tidak tahu.
Ruang seduh kini hanya secangkir kopi tentang aku seorang.
Aku si penikmat kopi pahit.
Dan takut untuk mencampur caramel di cangkir ku.
Karna bila ditambah, isi nya tumpah.
Alamak! Rindu ku sudah tumpah.
Sedang dia?
Inyong ndak tahu.
jangan lupa mampir ke warung kopi Ruang Seduh.
Secangkir kopi memang mampu memanjakan tubuh.
Secangkir kopi di pinggir suasana sore kota Jogja memang mampu menenangkan jiwa.
Secangkir kopi.
Ah iya.
Secangkir kopi pernah bercerita tentang aku dan dia.
Tentang aku dan dia yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu di kala derasnya hujan.
Hujan mengguyur jogja yang nan indah di bulan Juni.
Pelan, jadi juga rintik-rintik.
Lama, denting nya pun mulai berbisik, bercerita.
Juni, aku bertemu dengannya.
Desember, kami berbagi kisah.
Tak jemu-jemu aku memandang paras cantik nya.
Mungkin dia bidadari yang jatuh dari surga?
Atau diusir barangkali?
Ah tega sekali Tuhan mengusirnya.
Ia suka caramel.
Sedang aku kopi pahit saja.
Ia meledek.
"Masa kamu ndak suka pakai gula, mas?"
"Ndak. Toh gula nya itu udah ada di kamu loh ndok"
Tersipu malu ia mendengarnya.
Hari-hari pun kami habiskan bersama. Meniti lobang untuk dipenuhi akan cerita berdua.
Ruang seduh, secangkir kopi tentang aku dan dia.
Ruang seduh, ketika hujan mengguyur Jogja. Ruang seduh menjadi tempat berteduh.
Kugenggam tangannya di tanganku.
Ku tiupkan nafas di sela-sela jari tangannya.
Menghangatkannya.
Ia menggigil cekikikan layak anak kecil yang manis.
Kopi dan roti dilumat oleh kami saat hujan sore itu.
Aku memandang ke arahnya.
Kuhapus kopi di bibirnya.
Kusentuh bibirnya, tersentuh pula segala indera dalam diriku.
Kukecup bibirnya, dengan pelan.
Tersapu sudah segala dosa, dan aku suci kembali.
Sebab, telah ku cium seorang bidadari.
Segala khayalan bertebaran keluar, membuar, membaur, meraub pada jarak antara kami berdua.
Berhembus napas, ciuman lelah, sedikit resah, mengadah uap.
Bak uap kopi arabesque.
Uap nya melepuh bersama dengan udara.
Bersatu. Menghilang dan abadi.
-
Ia tersenyum. Tersipu. Atau tak tahu harus berekspresi apa.
Sementara aku menarik diri.
Menampar alam bawah sadar!
Manis bibirnya, semanis kopi caramel yang ia minum.
Ia tersipu malu, berkata pilu lara.
"Kopimu pahit, mas"
Aku hanya tersenyum.
Sejak itu, kucampur kopi pahit dengan caramel.
Perpaduan antara kami.
Di ruang seduh ini.
-
Namun perpaduan tak selalu berjalan padu.
Seduh tak selalu menjadi tempat berteduh.
Seduh bisa menjadi sedih?
Tentu saja bisa.
Apa boleh buat.
Ketika menyeduh kopi malah membuat resah.
Ketika itu pula, kita rindu.
Aku rindu dia.
Sedang dirinya?
Aku tidak tahu.
Ruang seduh kini hanya secangkir kopi tentang aku seorang.
Aku si penikmat kopi pahit.
Dan takut untuk mencampur caramel di cangkir ku.
Karna bila ditambah, isi nya tumpah.
Alamak! Rindu ku sudah tumpah.
Sedang dia?
Inyong ndak tahu.
Karangan bunga untuk Laela di Karawang
14 bulan bersamamu lae,
adalah sebuah kenangan indah dalam hidupku.
Kau tahu itu, lae?
14 bulan kita lalui bersama, lae.
Kita arungi selat Sunda itu bersama.
Ingat kah kau akan itu, lae?
14 bulan kita berjuang menapaki jejak kaki di puncak gunung Rinjani itu, lae.
Mengucap janji untuk selamanya setia.
Akankah kau kenang itu, lae?
Lae,
Kau bilang kau baik-baik saja.
Tapi kau orang baik, lae.
Orang baik belum tentu baik-baik saja, bukan?
Lae,
Apa yang harus aku lakukan?
Menantang takdir atau ikhlas dengan kepergianmu?
Lae,
Aku tidak bisa.
Sikit waktu ku bersama kau, lae.
Empat belas bulan. Bah, tak kira-kira nya.
Belum lagi ku persunting kau untuk jadi teman hidup.
Kau pula yang di persunting malaikat kematian.
Lae,
Aku butuh 1400 bulan lagi untuk bisa bersamamu.
Aku butuh 1400 purnama lagi untuk menyaksikan nya denganmu.
Lae,
Tuhan tak meresmikan akad kita.
Tidak didunia ini.
Lae,
Mungkin Tuhan akan izinkan kita nanti di surga.
Oh Lae,
Bila ku rindu kau. Bagaimana?
Lae,
Aku cinta kau, kau tahu bukan?
Bisa tidak kira nya kau tenang disana sementara aku disini gemersak-gemersuk tak karuan?
Laela sayang,
Aku di Jakarta.
Sedang memesan karangan bunga untuk kau di Karawang.
Kau suka bunga Anggrek, bukan?
Laela sayang,
Aku tak hadir.
Dan sungguh, aku tak bisa.
Karena yang hadir; ialah mereka yang siap melepasmu.
Sementara aku tidak, lae.
adalah sebuah kenangan indah dalam hidupku.
Kau tahu itu, lae?
14 bulan kita lalui bersama, lae.
Kita arungi selat Sunda itu bersama.
Ingat kah kau akan itu, lae?
14 bulan kita berjuang menapaki jejak kaki di puncak gunung Rinjani itu, lae.
Mengucap janji untuk selamanya setia.
Akankah kau kenang itu, lae?
Lae,
Kau bilang kau baik-baik saja.
Tapi kau orang baik, lae.
Orang baik belum tentu baik-baik saja, bukan?
Lae,
Apa yang harus aku lakukan?
Menantang takdir atau ikhlas dengan kepergianmu?
Lae,
Aku tidak bisa.
Sikit waktu ku bersama kau, lae.
Empat belas bulan. Bah, tak kira-kira nya.
Belum lagi ku persunting kau untuk jadi teman hidup.
Kau pula yang di persunting malaikat kematian.
Lae,
Aku butuh 1400 bulan lagi untuk bisa bersamamu.
Aku butuh 1400 purnama lagi untuk menyaksikan nya denganmu.
Lae,
Tuhan tak meresmikan akad kita.
Tidak didunia ini.
Lae,
Mungkin Tuhan akan izinkan kita nanti di surga.
Oh Lae,
Bila ku rindu kau. Bagaimana?
Lae,
Aku cinta kau, kau tahu bukan?
Bisa tidak kira nya kau tenang disana sementara aku disini gemersak-gemersuk tak karuan?
Laela sayang,
Aku di Jakarta.
Sedang memesan karangan bunga untuk kau di Karawang.
Kau suka bunga Anggrek, bukan?
Laela sayang,
Aku tak hadir.
Dan sungguh, aku tak bisa.
Karena yang hadir; ialah mereka yang siap melepasmu.
Sementara aku tidak, lae.
Selasa, 25 Juli 2017
Kala Tuhan berbicara, biarlah Ia bicara. Jangan dipotong! Kau tidak ada hak.
Orang bilang,
bila sudah jarang berdoa, dirinya kafir.
Betulkah?
Aku tidak tahu. Tidak juga peduli.
"Hey kau! Kau kafir! Solat pun tidak"
Kepada siapa mereka berseru gerangan?
Bila pada mereka yang tidak seagama, tentu benar
Bila pada mereka yang seagama,
Aku tidak tahu apa tentu benar atau salah.
Karena diri ini masih berkaca.
Orang bilang,
bila tidak berbuat baik, kelak neraka tempat kembali.
Ah, pekikku.
Sok tahu sekali.
Tuhan yang maha tahu. Dia pula yang maha pemaaf.
Alkisah,
Seorang gadis kecil yang harus merana di masa kecilnya,
Ditimpa baja kesengsaraan,
Dipernis oleh kepedihan,
Dipotong habis kebahagiaannya oleh pisau kehidupan.
Janganlah menangis o nak o...
Janganlah hilang harapan, meski ayah nya telah tiada.
Meraung. Meraung. Meraung kau bak singa kelaparan.
O nak o....
Tuhan sedang mengajak kau bicara!
Dengarkan nak o nak...
Jangan dipotong, kau tidak ada hak.
Tuhan sedang mengajak kau bicara, wahai gadis kecil.
Kau adalah 1 diantara 100milyar gadis kecil di dunia ini,
yang diajak oleh-Nya berbicara.
Jangan dipotong, kau tidak ada hak.
Kau terpilih oleh-Nya untuk didekatkan pada-Nya.
Jangan takut, nak o nak..
Ayo nak e, tunduk pada-Nya serendah mungkin.
Kala Tuhan berbicara, nak sayang.
Jangan dipotong.
Kau tidak ada hak.
Senin, 24 Juli 2017
Senja pulang kerumah. Sementara aku tidak. Ntah mengapa?
Aku biarkan mereka. Mereka itu adalah angin
Aku biarkan mereka bertiup ke rambutku, menembus sela-sela rambut, melayang-layang.
Memang begitu bukan?
Langit warna nya oren emas kala itu.
Aku ingin yang berwarna coklat saja!
Tapi tuhan lebih baik dengan segala rencana-Nya. Oren emas memang warna indah milik Tuhan untuk manusia,
Manusia, oh manusia.
Tak habis-habisnya bila berbicara tentang manusia.
Begitu juga tentang dirimu, mas.
Aku memanggilnya dengan sebutan mas. Namanya hadi. Mas hadi, panggilku.
Senja selalu menjadi favorit kami berdua.
Tapi kini aku sendiri yang menikmati senja.
Resah.
Rindu.
Aku simpan sesisih rindu dikala sore.
Kejam.
Rindu begitu kejam.
Tak kira-kira nya ia menusuk di relung hati. Dalam pula, alamak.
Mas hadi, panggilku.
Kemana engkau mas hadi?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Kau juga sudah pulang kerumah mu, mas hadi.
Lalu dimana rumah ku?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku masih disini duduk menikmati senja kita dulu.
Aku tidak beranjak.
Tidak sekalipun malam kelabu datang menghampiri.
Angin berbisik, mas!
Mereka bilang kau tidak akan kembali.
Tidak untuk selamanya.
Maka aku tidak ingin dengar!
Aku acuhkan mereka.
Mereka itu adalah angin, kadang benar kadang tidak ucapannya.
Mas,
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?
Aku biarkan mereka bertiup ke rambutku, menembus sela-sela rambut, melayang-layang.
Memang begitu bukan?
Langit warna nya oren emas kala itu.
Aku ingin yang berwarna coklat saja!
Tapi tuhan lebih baik dengan segala rencana-Nya. Oren emas memang warna indah milik Tuhan untuk manusia,
Manusia, oh manusia.
Tak habis-habisnya bila berbicara tentang manusia.
Begitu juga tentang dirimu, mas.
Aku memanggilnya dengan sebutan mas. Namanya hadi. Mas hadi, panggilku.
Senja selalu menjadi favorit kami berdua.
Tapi kini aku sendiri yang menikmati senja.
Resah.
Rindu.
Aku simpan sesisih rindu dikala sore.
Kejam.
Rindu begitu kejam.
Tak kira-kira nya ia menusuk di relung hati. Dalam pula, alamak.
Mas hadi, panggilku.
Kemana engkau mas hadi?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Kau juga sudah pulang kerumah mu, mas hadi.
Lalu dimana rumah ku?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku masih disini duduk menikmati senja kita dulu.
Aku tidak beranjak.
Tidak sekalipun malam kelabu datang menghampiri.
Angin berbisik, mas!
Mereka bilang kau tidak akan kembali.
Tidak untuk selamanya.
Maka aku tidak ingin dengar!
Aku acuhkan mereka.
Mereka itu adalah angin, kadang benar kadang tidak ucapannya.
Mas,
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?
Selasa, 20 Oktober 2015
A poem
DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
(1980)
Karya: Sapardi Djoko Damono
Langganan:
Postingan (Atom)