Bila mampir ke jogja,
jangan lupa mampir ke warung kopi Ruang Seduh.
Secangkir kopi memang mampu memanjakan tubuh.
Secangkir kopi di pinggir suasana sore kota Jogja memang mampu menenangkan jiwa.
Secangkir kopi.
Ah iya.
Secangkir kopi pernah bercerita tentang aku dan dia.
Tentang aku dan dia yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu di kala derasnya hujan.
Hujan mengguyur jogja yang nan indah di bulan Juni.
Pelan, jadi juga rintik-rintik.
Lama, denting nya pun mulai berbisik, bercerita.
Juni, aku bertemu dengannya.
Desember, kami berbagi kisah.
Tak jemu-jemu aku memandang paras cantik nya.
Mungkin dia bidadari yang jatuh dari surga?
Atau diusir barangkali?
Ah tega sekali Tuhan mengusirnya.
Ia suka caramel.
Sedang aku kopi pahit saja.
Ia meledek.
"Masa kamu ndak suka pakai gula, mas?"
"Ndak. Toh gula nya itu udah ada di kamu loh ndok"
Tersipu malu ia mendengarnya.
Hari-hari pun kami habiskan bersama. Meniti lobang untuk dipenuhi akan cerita berdua.
Ruang seduh, secangkir kopi tentang aku dan dia.
Ruang seduh, ketika hujan mengguyur Jogja. Ruang seduh menjadi tempat berteduh.
Kugenggam tangannya di tanganku.
Ku tiupkan nafas di sela-sela jari tangannya.
Menghangatkannya.
Ia menggigil cekikikan layak anak kecil yang manis.
Kopi dan roti dilumat oleh kami saat hujan sore itu.
Aku memandang ke arahnya.
Kuhapus kopi di bibirnya.
Kusentuh bibirnya, tersentuh pula segala indera dalam diriku.
Kukecup bibirnya, dengan pelan.
Tersapu sudah segala dosa, dan aku suci kembali.
Sebab, telah ku cium seorang bidadari.
Segala khayalan bertebaran keluar, membuar, membaur, meraub pada jarak antara kami berdua.
Berhembus napas, ciuman lelah, sedikit resah, mengadah uap.
Bak uap kopi arabesque.
Uap nya melepuh bersama dengan udara.
Bersatu. Menghilang dan abadi.
-
Ia tersenyum. Tersipu. Atau tak tahu harus berekspresi apa.
Sementara aku menarik diri.
Menampar alam bawah sadar!
Manis bibirnya, semanis kopi caramel yang ia minum.
Ia tersipu malu, berkata pilu lara.
"Kopimu pahit, mas"
Aku hanya tersenyum.
Sejak itu, kucampur kopi pahit dengan caramel.
Perpaduan antara kami.
Di ruang seduh ini.
-
Namun perpaduan tak selalu berjalan padu.
Seduh tak selalu menjadi tempat berteduh.
Seduh bisa menjadi sedih?
Tentu saja bisa.
Apa boleh buat.
Ketika menyeduh kopi malah membuat resah.
Ketika itu pula, kita rindu.
Aku rindu dia.
Sedang dirinya?
Aku tidak tahu.
Ruang seduh kini hanya secangkir kopi tentang aku seorang.
Aku si penikmat kopi pahit.
Dan takut untuk mencampur caramel di cangkir ku.
Karna bila ditambah, isi nya tumpah.
Alamak! Rindu ku sudah tumpah.
Sedang dia?
Inyong ndak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar