Senin, 24 Juli 2017

Senja pulang kerumah. Sementara aku tidak. Ntah mengapa?

Aku biarkan mereka. Mereka itu adalah angin
Aku biarkan mereka bertiup ke rambutku, menembus sela-sela rambut, melayang-layang.
Memang begitu bukan?
Langit warna nya oren emas kala itu.
Aku ingin yang berwarna coklat saja!
Tapi tuhan lebih baik dengan segala rencana-Nya. Oren emas memang warna indah milik Tuhan untuk manusia,
Manusia, oh manusia.
Tak habis-habisnya bila berbicara tentang manusia.
Begitu juga tentang dirimu, mas.
Aku memanggilnya dengan sebutan mas. Namanya hadi. Mas hadi, panggilku.
Senja selalu menjadi favorit kami berdua.
Tapi kini aku sendiri yang menikmati senja.
Resah.
Rindu.
Aku simpan sesisih rindu dikala sore.
Kejam.
Rindu begitu kejam.
Tak kira-kira nya ia menusuk di relung hati. Dalam pula, alamak.
Mas hadi, panggilku.
Kemana engkau mas hadi?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Kau juga sudah pulang kerumah mu, mas hadi.
Lalu dimana rumah ku?
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku masih disini duduk menikmati senja kita dulu.
Aku tidak beranjak.
Tidak sekalipun malam kelabu datang menghampiri.
Angin berbisik, mas!
Mereka bilang kau tidak akan kembali.
Tidak untuk selamanya.
Maka aku tidak ingin dengar!
Aku acuhkan mereka.
Mereka itu adalah angin, kadang benar kadang tidak ucapannya.
Mas,
Senja sudah mau pulang ke rumah nya.
Tapi aku tidak.
Entah mengapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar